Sunday, April 21, 2013

Resensi : The Invention of Hugo Cabret





The Invention of Hugo Cabret
Marcalais Fransisca (Terj.)
Penerbit Mizan – Cet. I, Januari 2012
543 hal.
(Hadiah giveaway dari Ren’s Little Corner)

Hugo Cabret, anak lelaki yang misterius. Dia tampak selalu mengendap-endap, mengintip di loteng. Setelah ayahnya meninggal, Hugo tinggal bersama pamannya, yang merupakan seorang pengatur jam di stasiun. Pamannya ini selalu pergi, dan tugas mengatur jam diserahkan pada Hugo. Hugo tinggal di balik dinding stasiun kereta api yang gelap.

Ada rahasia yang disimpan oleh Hugo. Sebuah buku catatan selalu terselip di sakunya. Di dalam buku itu ada gambar-gambar, seperti rangkaian mesin-mesin. Ini adalah peninggalan ayahnya, yang seorang tukang jam. Sejak kecil, Hugo suka memerhatikan saat ayahnya bekerja. Sampai ia pun bisa memperbaiki berbagai benda mekanik yang rusak. Bahkan ia dan ayahnya mempunyai proyek besar – yaitu memperbaiki sebuah automan. Sayangnya, ayah Hugo meninggal dalam sebuah kebakaran.

Automan itu seperti manusia robot, di dalam tubuhnya terdapat rangkaian mesin-mesin yang rumit. Automan ini seperti hendak menulis, dan Hugo sangat penasaran, pesan apa yang akan ditulis oleh automan ini. Maka Hugo pun bertekad untuk membuat automan ini kembali berfungsi. Meski ia harus mencuri untuk mendapatkan alat-alat guna mewujudkan impiannya, dan mencari kunci yang pas untuk memutar automan ini.

Tapi, suatu hari, Hugo tertangkap basah ketika hendak mencuri di toko mainan. Dan, betapa terkejutnya si pemilik toko itu melihat gambar-gambar dalam buku catatan Hugo itu.

Hugo sebenarnya anak yang baik, hanya saja nasib yang membuat ia harus melakukan tindakan yang tak terpuji. Meskipun tanpa buku catatan – yang sudah diambil pak tua penjaga toko mainan itu – Hugo tetap berusaha memperbaiki automan itu berdasarkan ingatannya.

Makin ke belakang, misteri automan ini malah menyingkap kehidupan pemilik toko mainan itu. Sosok yang galak, digantikan menjadi sosok yang rapuh. Sementara Hugo, sama sekali gak pernah tersenyum sepanjang cerita. Yah, kecuali endingnya sih. Hidupnya seolah penuh ketakutan, takut kalau automan itu akan hancur sementara ia belum tau misteri di dalamnya atau takut tertangkap dan dipenjara. Isabel jadi sosok yang mencerahkan. Lalu, ada Etienne, meskipun singkat, justru jadi penyelamat.

via thebioscope.net

via IMDb
Membaca buku ini, seperti yang sudah diperingatkan di awal cerita, seperti menonton sebuah film. Dibuka dengan gambar matahari terbit, lalu pelan-pelan semakin luas terlihat pemandangan kota Paris tahun 1930an. Gue bayangkan awalnya hanya terdengar musik yang lembut, lalu semakin jelas kota Paris-nya, terdengar musik-musik yang lebih ceria, lalu pelan-pelan musik menghilang, digantikan dengan riuh-rendah suara orang di stasiun kereta api. Apa yang ada di layar semakin terfokus pada sosok seorang anak laki-laki yang tampak ketakutan, lalu yang terdengar hanyalah suara kaki si anak kecil berlari di lorong yang sepi.

Gue ‘terpukau’ dengan ilustrasi di dalam buku ini. Goresan pensil hitam-putih bikin cerita semakin misterius. Yah, karena gak bisa gambar, gue selalu terkagum-kagum dengan sebuah cerita yang penuh ilustrasi, meskipun hanya hitam putih begini.

Dan, gue juga mengkategorikan buku ini ke dalam historical-fiction, karena salah satu tokoh di buku ini – George Méliés, adalah pembuat film dan juga ilusionis yang terkenal di masanya. Cerita A Trip to the Moon – yang jadi film favorit Hugo, adalah salah satu karyanya yang terkenal.

Gue jadi benar-benar serasa lagi nonton film. Adakalanya gue seolah menahan napas, saat adegan yang menegangkan dan juga lega kala semuanya berakhir baik-baik saja. Gue ‘beruntung’ karena membaca bukunya dulu, dan belum nonton film-nya. Jadi gue lebih bebas ‘berimajinasi’ dan belum ‘terkontaminasi’ film-nya.

Gue gak ragu-ragu untuk memberikan 5 bintang dan bulan untuk Hugo.

lemaribukuku.blogspot.com
Rahmawati

0 comments:

Post a Comment